progress
progress
"Either the world is actually shaped round or flat, that's what I wanted to know.." (Saya ingin melihat dunia seperti apa yang sebenar-benarnya..Didiek (2006)).
I am a father of 1 daughter, I am Indonesian who come to the UK in the name of education. I hope this blog can help me to communicate with people in all over the world. All I can do is for the readers who need information about globalisation. Feel free to read.
Banyak pengusaha luar yang membeli saham di liga Inggris. Roman Abramovic seorang billioner pengusaha minyak dari Rusia contohnya yang telah membeli Chelsea FC di tahun 2003 dan juga Malcolm Glazer berkebangsaan Amerika yang memegang saham terbesar di Manchester United football club pada tahun 2005. Akhir-akhir ini pada bulan Agustus kemarin, satu lagi seorang pengusaha Amerika, membeli club Aston Villa klub tua di “Midlands”. Dan tak kalah investor dari Islandia membeli klub West Ham salah satu klub di London.
Pada saat yang bersamaan, telah terjadi kesepakatan antara institusi football Inggris dengan Dubai International Capital (DIC) dalam rangka menyuntik dana segar dari pengusaha arab Mohammed bin Rashid dengan maksud membeli saham terbesar di Liverpool football club. Rumor-nya dana itu akan di investasikan sebesar 450 juta pound sterling atau sekitar Rp. 8 triliun. Apabila DIC akan membeli Liverpool maka akan menjadi investor luar ke tujuh dari 20 club di top liga Inggris.
Not the English league?
Selected clubs, Barclays Premiership, December 2006
Club================Owner/leading shareholder========English manager?
Manchester United-----Malcolm Glazer, American----------------------No
Chelsea Roman----------Abramovich, Russian-----------------------------No
Portsmouth--------------Alexandre Gaydamak, French------------------Yes
Liverpool-----------------David Moores, English---------------------------No
Aston Villa---------------Randy Lerner, American-------------------------No
Fulham--------------------Mohamed Al Fayed, Egyptian------------------No
West Ham----------------Eggert Magnusson, Icelandic-------------------Yes
Source: The Economist
Yang menjadi permasalahan utama adalah dari bentuk investasi Roman Abramovic dan Malcolm Glazer contohnya, kedua bentuk investasi itu ternyata beresiko besar. Economist mengatakan bahwa Abramovic telah menggunakan uang itu untuk membeli kesuksesan tanpa memperhatikan kestabilan finansial jangka panjang. Yang di khawatirkan adalah akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup klub. Penyampaian kritik kepada Mr Glazer sedikit berbeda. Penggemar bola melihat dia dari sisi oportuniti karena menanamkan investasi yang cukup besar itu. Ketika pada saat yang berbeda, masih jauh harapan untuk meraih keuntungan yang berguna bagi klub dan orang-orang Inggris. Memang di tahun-tahun sebelumnya klub-klub itu di kontrol oleh pebisnis lokal untuk menaikkan prestise mereka di suatu komunitas bisnis. Manajer Arsenal, Arsene Wenger, seorang yang berkebangsaan Perancis merasa khawatir bahwa the “Soul of Football” dimana bermain bola adalah salah satu nyawa bagi orang-orang Inggris akan terancam.
Yang menjadi kenyataan adalah bisnis di Premiership sedang berkembang karena terbuka untuk siapa saja atau di sebut dengan “global market”. Sejak pada tahun 1992 formasi ini digalakkan terbukti telah menarik bakat-bakat asing dan juga dana luar. Manajer luar Inggris pun membawa angin baru (tidak ada seorang pun orang Inggris asli yang membawa klub ke ambang kesuksesan di premiership). Tidak heran “Bisnis dan Bermain Bola” di Inggris menimbulkan perasaan sangat antusias kepada jutaan penggemar manca negara termasuk saya.
Source:
‘Ere we go..: Business of football, Economist.com, Dec 8th 2006.
Semenjak Noorda, seorang presiden yang mengepalai perusahaan multi-nasional perangkat lunak asal Amerika, Novell Inc., memakai bahasa lokal daripada berbahasa Inggris ketika dia hendak memperluas perusahaannya ke negara lain di “English unspoken country”, itulah contoh dari kata-kata kolonialisasi atau kolonisasi. Sebenarnya dari jaman klasik sudah ada kolonisasi dengan definisi memperluas jaringannya, mempengaruhi, membangun yang lainnya seperti India, Carribean, dan negara commonwealth lainnya yang sudah terkolonisasi sejak ratusan tahun yang lalu, Inggris lah yang mempengaruhi ekonomi mereka.
Kolonisasi berhubungan dengan manusia atau harkat hidup orang banyak. Pada jaman Roman Empire dan Yunani kuno sudah terbentuk kata kolonialisasi dengan membangun karakter manusia yang dapat bekerja pada sektor irigasi yaitu sektor sawah dan ladang untuk terus di kembangkan membangun ekonomi. Nama kota London pun ternyata awalnya terkolonisasi oleh Roman Empire yang asalnya dari Londinium.
Roman Empire itu kemudian runtuh di abad pertengahan (middle ages) karena banyaknya pendatang yang berbondong-bondong dari Eropa Timur dan Asia ke negara yang lebih baik taraf hidupnya seperti negara-negara di Eropa barat. Yang paling hebat membawa kata kolonisasi pada abad ini adalah pasukan “Vikings of Scandinavia” yang berasal dari negri Scandinavia seperti Denmark, Norwegia selatan dan Swedia selatan yang lebih menitik beratkan koloni ke arah “trading” dari pada membangun.
Kembali kepada Noorda seorang pemimpin asli Amerika mengkolinisasikan perusahaannya ke negara-negara Asia, Eropa timur untuk mengenalkan, memperluas, dan membangun Novel Inc. agar, memang, produk yang di hasilkan Noorda sangat bermanfaat bagi kemudahan dalam menciptakan jaringan kantor seperti Printer, mesin foto copy, dan komputer dapat saling berkomunikasi dengan baik. Kolonisasi seperti Coca-Cola pun yang merupakan kolonisasi abad sekarang ini (modern colonisation) sangat mempengaruhi semua sistem seperti halnya mempengaruhi kultur yang berbeda-beda di setiap penjuru bumi. Siapa yang gak tau Coca-Cola sih?
Luar angkasa pun sudah terkolonisasi, Mars yang jelas tidak ada seorang makhluk hiduppun masih tetap saja di teliti oleh NASA untuk memastikan apakah ada atau tidak habitat makhluk hidup yang serupa atau berbeda jenisnya. Jadi konotasinya seperti “colonisation of alien planets by humans” atau “colonisation of Earth by aliens….. :0)
Jadi, memang sekarang lebih baik mengikuti peradaban yang sudah terkolonisasi oleh peradaban modern dari pada jalan di tempat yang tidak tau arahnya. Arahnya sebenarnya sudah tau ke mana yaitu jalan yang lurus, tinggal mental kita di siapkan dari sekarang agar tidak terkolonisasi budaya yang tidak-tidak. Memang setiap hasilnya itu membutuhkan proses, dan proses itulah “ternyata” harus di pupuk seperti bunga matahari yang tumbuh karena di pupuk dan terus meninggi sampai kelihatan mekarnya yang indah berwarna kuning bak menyinari. Artinya seperti manusia yang akan menghasilkan moral yang baik apabila terus di sinari dengan ilmu yang bermanfaat.
Source:
http://en.wikipedia.org/wiki/Colonialization
Sekarang ini sudah ada pesawat yang mengangkut penumpang untuk perjalanan ke luar angkasa, dengan hanya memakan waktu 90 menit. Penumpang tersebut berstatus sebagai turis, bagaikan turis yang berwisata melihat pemandangan, cuma bedanya pemandangan yang berada di luar angkasa. Virgin Galactic yaitu anak perusahaan dari Virgin Company sebagai pioneer yang akan menciptakan mimpi melihat luar angkasa secara langsung menjadi kenyataan.
“..they will bring the dream of space travel for many millions closer to reality”
Berikut kutipan Sir Richard Branson selaku president Virgin Company. Beliau di kategorikan sebagai orang no.1 terkaya di daratan Inggris Raya, tentu dari hasil kerja nyatanya yang mengangkat perusahaan tergolong sukses di beberapa bidang seperti transportasi dan telekomunikasi yang sejarahnya adalah perusahaan yang memulai karirnya dari dunia bisnis entertainment/ showbiz.
Untuk berangkat ke luar angkasa hanya perlu biaya sebesar 115,000 pound sterling atau sekitar 2 milyar rupiah untuk tiket satu orang termasuk biaya pelatihan selama 3 hari (berarti kalau saya bertiga sekeluarga totalnya 6 milyar rupiah, hmmm..). Di perkirakan customer yang akan membeli tiket ini akan berjumlah 3000 calon Astronauts selama 5 tahun kedepan. Ngumpulin duit dari sekarang ahh… siapa tau...
Source:
http://www.space.com/missionlaunches/virgin_space_040927.html
Melihat kejadian yang baru-baru ini terjadi, tepatnya pada tanggal 17 Oktober 2006, mengingatkan saya pada ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
“Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman 55: 37-38).
Sungguh ayat ini sangat membuat hati menjadi bergetar mengingat akan kebesaran Allah SWT, yang menciptakan seluruh alam semesta dan juga pencipta seluruh jagad raya ini. Allah SWT memberikan suatu pandangan bahwa apa yang Allah SWT sampaikan melalui nabi Muhammad SAW kepada hambanya adalah benar, tentu dengan melalui proses yang melawati ruang dan waktu. Satu persatu ayat-ayat itu diperkenalkan kepada umatnya.
Pergeseran galaksi yang memakan ribuan sampai milyaran bahkan triliunan tahun lamanya dapat di lihat melalui teropong yang di rancang khusus seperti satelit di ruang angkasa. Di asuh oleh NASA (Amerika Serikat) teropong ini di beri nama Hubble Space Telescope. Nama teropong ini di ambil dari nama seorang ilmuan penemu teropong bintang pada saat itu.
Pertanyaan yang berkiblat kepada agamaku adalah apakah Allah SWT memberikan suatu perumpamaan? Jadi kenikmatan itu akan sangat di rasakan sebagai agama yang utuh dan terjamin sepanjang masa yang pada saatnya nanti galaksi kita-PUN akan seperti itu.
Pada akhirnya, apabila galaksi kita yaitu di sebut dengan galaksi Bima Sakti dan galaksi terdekat nya yaitu sebut saja Andromeda (=6 Milliar tahun jaraknya dari sekarang) akan saling bertemu suatu saat nanti (Wallahu’alam), apakah hal ini yang disebut dengan hari akhir?
Source:
http://news.yahoo.com/s/nm/20061017/sc_nm/space_galaxy_dc
http://www.spaceref.com/news/viewsr.rss.html?pid=22390
http://www.spacetelescope.org/index.html
Kalau di adu antara keduanya mungkin tidak ketemu akar permasalahannya. Permasalahan yang cukup luas sehingga perlu di cari akarnya. Maksudnya di sini bukan di adu tetapi lebih menekankan kepada apa arti sebenarnya dari pendidikan antara Sarjana Ekonomi dan Master of Art. Topik ini sengaja ingin ulas untuk lebih mengetahui letaknya, sampai dimana ilmu itu berada dan untuk apa selama ini ilmu itu dipakai. Sebenarnya apa yang telah di pelajari di bangku SE dulu hampir sama dengan apa yang di ajarkan di MA sekarang. Bedanya mungkin, MA lebih menekankan kepada studi kasus. Dengan kata lain, bagaimana sebuah teori yang cemerlang dapat di terapkan di dunia yang sebenarnya. Jadi, MA lebih menekankan ke arah yang sebenarnya, contohnya, model Diamond yang di temukan oleh Porter atau dengan 5 forces-nya yang memang teori yang sangat di minati di dunia bisnis. Lebih akuratnya lagi, mungkin MA lebih seiring berjalan dengan ketajaman seseorang untuk berpikir ke arah yang sangat kritis. Seperti halnya, sebuah perusahaan atau sekumpulan orang banyak di suatu negara yang memerlukan suatu penemuan-penemuan baru agar sesuai dengan visinya yaitu ke arah yang lebih baik.
Di MA seluruh siswa di harapkan dapat memberikan pendapatnya masing-masing, contohnya topik yang paling di sukai adalah mengenai politik yang sangat globalnya mempengaruhi ekonomi, sosial dan budaya maupun kebijakan-kebijakan di suatu negara atau antar negara, terbilang, bagaimana dengan suhu politik di Iraq dari rivalnya USA. Sungguh banyak yang tertarik dengan topik tersebut, yang mungkin akan terbawa imbas baiknya ke dalam diri masing-masing. Pertanyaannya, bagaimana mungkin orang-orang berbondong-bondong jauh-jauh dari Jerman, Perancis, Jepang, Vietnam, Cina(apalagi!), Malaysia, negara-negara di timur tengah, negara-negara Eropa timur, semua itu hanya untuk mendapatkan satu kata “Ilmu” dan selain itu juga untuk mendapatkan Network yang sangat luasnya.
Apa yang tertulis disini bukan maksud untuk memperlihatkan bagaimana memandang dari suatu individu, tetapi lebih menekankan bagaimana memandang sekumpulan orang yang begitu banyak dan luasnya tentu berbeda-beda dengan satu “ilmu” yang di harapkan akan berpandangan yang sama (sedih!! Subhanallah). Akhirnya, inilah bentuknya.
Mudah-mudahan apa pun bentuk ilmu yang di serap, dapat di pergunakan sebaik-baiknya untuk seluruh umat manusia yang berawal dari keluarga yang merupakan komunitas terkecil.