To develop Rhenald Kasali's acticle (Sindo, 14 Juli 2011) original title: Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?
Kalau pernah mengenyam pendidikan di luar negeri sudah pasti berani berpendapat(berdasarkan survey surara terbanyak orang Indonesia asli), bahwa memang kita lebih pintar dari pendidikan di luar tersebut. Berdasarkan pengalaman, pada saat kelas 3 SD hal yang terberat adalah membawa buku-buku yang sedemikian banyaknya dimana memang sangat diperlukan untuk dibaca dikelas mulai bahasa Indonesia, Matematika dsb. Banyak bukan artinya fokus. Pendidikan di luar, saya akui mereka fokus dalam mengasah profesionalisme anak didiknya. Contohnya sekarang yang lagi trend adalah desain grafis. Mulai dari gaming industry sampai pembuatan animasi advertising atau buku-buku komik bergambar. Softwarenya macam-macam.
Di Indonesia, perlu disadari dan dipelajari bahwa anak yang semakin fokus dengan kegemarannya akan semakin mengenal dunia profesionalnya. Saya pernah menemukan seorang anak yang belum sekolah TK, tetapi sudah mulai bisa berhitung dengan kemampuan jarinya dengan metode Jarimatika, bermain tanpa disadari sambil belajar. Begitu juga bagi anak-anak yang menyukai game, memang harus di seimbangkan dengan kegiatan belajarnya, tetapi alangkah baiknya diarahkan di dalam melakukan pembelajaran bagaimana membuat game tersebut tentu dalam konteks gaming industry. Untuk konteks musik sekarang ini kita mulai sadar bahwa konteks ini sedang naik daun.
Dari sisi behaviour tentu si anak yang kegemarannya yg di sebutkan di atas akan berbeda-beda, gaming bercerita mengenai super hero prilakunya maka seperti tokoh super hero tersebut. Musik metal mempengaruhi tingkah lakunya yang gondrong jingkrak-jingkrakan. Tapi saya percaya, apabila si anak sadar bahwa kegemarannya adalah sebuah professionalisme yang butuh dalam pengembangan skill, mereka tidak akan larut dengan hal-hal bodoh yang seharusnya mereka tidak lakukan, "Skills improved Maturity".
Hal-hal bodoh disini tentunya ada konteks yang harus diselami agar terhindar dari segala macam tantangan jaman yaitu konteks spiritual.
Guru-guru saya selalu menanamkan "make it simple", kata-kata itu pun di buat sangat simple padahal kata-katanya seperti ini:
As I grew older, I realized that it was much better to insist on the genuine forms of nature, for simplicity is the greatest adornment of art.
Albrecht Durer
Mengenai disertasi, punya pengalaman menarik juga, semua itu tergantung goal setting kita. Disini bisa dibedakan antara berteoritis atau implemented. Keduanya mereka(guru) sangat menghargai kedua perbedaan tersebut. Biasanya guru-guru tersebut sangat mengetahui karakter si pembuat disertasi. So, don't make it worse, it's your way buddy, the chosen one...
Didiek
"Either the world is actually shaped round or flat, that's what I wanted to know.." Didiek (2006)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
About Me
- Didiek Satria
- When the world is simply changed, I do micro to macro; short to long term of business; that begin from the science that I've learned since 1983. Born since 30 years ago. As an alumni of Indonesian and UK's education, simplified with love of family with two children, supportive friends in the round world; to challenge in the flatted arena.
0 comments:
Post a Comment